Krisis Suplai Picu Kenaikan Ekstrem Harga Batu Bara di Tiongkok
By Admin

Batubara
nusakini.com, Harga komoditas batu bara termal di Tiongkok dilaporkan menembus rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada awal pekan ini. Lonjakan nilai jual ini didorong oleh terhambatnya rantai pasokan domestik serta berkurangnya kuota pengiriman dari Indonesia.
Berdasarkan data Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, harga acuan bahan bakar pembangkit listrik tersebut menyentuh angka 1.004 yuan atau sekitar 150 dolar Amerika Serikat per ton pada Senin (12/10/2026). "Ini adalah kali pertama harga menyentuh angka empat digit dalam dua tahun terakhir," ungkap perwakilan asosiasi tersebut dalam keterangan resminya.
Penurunan produksi dalam negeri Tiongkok dilaporkan mencapai lebih dari tiga persen hingga periode Agustus tahun ini dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut diakibatkan oleh pengetatan standar keselamatan tambang menyusul insiden longsor fatal di Provinsi Shanxi pada bulan Mei lalu.
Faktor cuaca ekstrem turut memengaruhi kelancaran distribusi komoditas dari Indonesia sebagai salah satu pemasok utama bagi pasar Asia. Fenomena El Nino memicu kekeringan sungai di area pertambangan, sehingga operator kapal tongkang terpaksa mengurangi kapasitas muatan mereka.
Tren kenaikan harga energi secara global diduga kuat ikut memperparah situasi pasar komoditas saat ini. "Kekeringan yang dikaitkan dengan pola cuaca El Nino telah menurunkan permukaan air sungai, sementara konflik di Timur Tengah menghambat distribusi produksi gas alam," catat laporan penyedia berita komoditas setempat.
Pihak berwenang di Beijing diperkirakan tetap mempertahankan aturan ketat keselamatan tambang menjelang pertemuan penting partai penguasa pada akhir bulan ini. Sementara itu, proses pemeliharaan jalur kereta api pengangkut batu bara utama di Tiongkok dijadwalkan baru akan selesai pada 26 Oktober mendatang.
Tingkat konsumsi batu bara di Tiongkok diprediksi akan terus melonjak seiring datangnya musim dingin pada tahun ini. Meskipun ada peralihan pesat ke energi terbarukan, komoditas ini tetap menyumbang sekitar separuh dari total bauran energi negara tersebut. (*)